Rabu, 12 Maret 2014

Penggunaan Bahasa Alay

           Bahasa Indonesia merupakan bahasa nasional yang digunakan oleh seluruh warga negara Indonesia dalam berkomunikasi ditengah beragamnya bahasa daerah yang terdapat di Indonesia. Kehadiran bahasa Indonesia diharapkan dapat menjalin persatuan dan kesatuan bangsa dengan terhubungnya komunikasi yang baik melalui bahasa itu sendiri.
 Banyak para ahli yang mengutarakan pendapatnya tentang bahasa. Menurut Ferdinand de Saussure, bahasa adalah ciri pembeda yang paling menonjol karena dengan bahasa setiap kelompok sosial merasa dirinya sebagai kesatuan yang berbeda dari kelompok lain. Menurut Plato, bahasa pada dasarnya adalah pernyataan pikiran seseorang dengan perantaraan onomata (nama benda atau sesuatu) dan rhemata (ucapan) yang merupakan cermin dari ide seseorang dalam arus udara lewat mulut. Selain pendapat para ahli, bahasa menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah sistem lambang bunyi yang arbitrer, yang digunakan oleh anggota suatu masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi, dan mengidentifikasi diri.
       Di era globalisasi seperti saat ini, penggunaan bahasa Indonesia yang baik di kalangan remaja dalam kehidupan sehari-hari terlihat semakin memprihatinkan. Bahasa seolah dijadikan sasaran yang tepat untuk bahan ejekan hanya untuk kesenangan belaka. Penggunaan bahasa yang baik pun mulai memudar dan tergeser oleh penggunaan bahasa lain di luar bahasa Indonesia. Dengan penggunaan  bahasa-bahasa tersebut para remaja menganggap bahwa dirinya adalah orang modern, orang kota dan bukan orang daerah yang kurang modern atau biasa disebut orang kampungan. 
          Satu diantara faktor yang mempengaruhi penggunaan bahasa yang tidak dikenal itu ialah untuk bahasa sendiri (individu). Bahasa yang digunakan tersebut dianggap mudah dimengerti bagi orang yang membuat dan menggunakannya. Yang lebih memprihatinkannya lagi bahwa, fenomena ini tidak hanya menjamur di daerah metropolitan saja bahkan wilayah yang jauh dari kota besar pun terjangkit dan merasakan kehadiran fenomena ini.        
            Adanya pergaulan sosial tanpa batas yang dilakukan oleh para remaja inilah yang membuat bahasa-bahasa yang demikian menjamur di negeri ini. Disetiap kali pembicaraan selalu saja terselip satu atau dua kata dari bagian bahasa tersebut, baik didalam kondisi yang non-formal maupun formal sekalipun. Saya membuat sebuah contoh, misalnya saja didalam sebuah forum formal yang dihadiri oleh kaum intelek, seseorang ditugaskan untuk menyampaikan sebuah pidato. Penyampai pidato tersebut menyisipkan kalimat “loe, gue, end” disela-sela pidatonya. Hal ini sudah pasti akan mengundang banyak reaksi dari pendengar. Ada yang tertawa dan ada pula yang mengkritisi hal ini karena dianggap tidak pantas untuk diucapkan saat situasi formal seperti itu.
             Ada banyak contoh bahasa yang tidak dikenal yang berkembang dikalangan para remaja saat ini yaitu bahasa gaul, bahasa alay, bahasa prokem (preman), bahasa G, dan bahasa Gay. Didalam esaay ini, saya akan membahas satu diantara contoh bahasa yang tidak dikenal tersebut yaitu bahasa alay.
  Bahasa alay merupakan bahasa baru yang dianggap bahasa paling “tenar” diantara bahasa-bahasa pergaulan remaja lainnya. Bahasa alay sangat sulit untuk dimengerti karena dilihat dari struktur katanya saja, kebanyakan orang sudah bingung untuk menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia yang sesungguhnya, bahkan tingkat kesulitannya menandingi bahasa asing. Mengapa saya berkata demikian ? Untuk mempermudah, saya mengambil satu contoh kalimat dalam bahasa Indonesia yang kemudian saya terjemahkan ke dalam bahasa alay. Misalnya saja, “saya selalu bersedih hati ketika hujan datang.” Jika kalimat tersebut diterjemahkan ke dalam bahasa alay akan menjadi, “5h4y4 ch3LhAlhU  Bh3rcHed1h h4t! kh3dtlkhA hUjhaN dh4thaN6.”
   Dari contoh diatas, sudah jelas terlihat bahwa bahasa alay akan merusak bahkan dapat menghancurkan tatanan bahasa Indonesia yang sebenarnya. Kedua puluh enam huruf yang dirangkai dengan sistematis sehingga menghasilkan kata atau kalimat yang baik, utuh dan dimengerti, tiba-tiba menghadirkan angka dan simbol tanda baca sebagai bagian dari pembangun kalimatnya. Ini terkesan seperti sebuah kata sandi, bukan bahasa baku selayaknya bahasa tertulis dalam bahasa Indonesia. Namun bukan berarti ini hanya akan merusak bahasa Indonesia dalam penggunaan bahasa tulisnya saja, tetapi juga akan berdampak pada bahasa lisannya.
  Jika kita pernah melihat dan mendengar seseorang menggunakan bahasa alay secara lisan, coba perhatikan saat dia berbicara. Dari gerak gerik mulut dan sikapnya, akan terlihat bahwa bahasa alay itu sangat berdampak negatif bagi kita. Kebanyakan dari mereka yang setia dengan bahasa alay akan cenderung memiliki sesuatu yang berlebihan. Kepercayaan dirinya berlebihan, saat  dia berbicara gerakan badan yang dipergunakan pun berlebihan melampaui batas gerakan seseorang yang berbicara pada kondisi normal. Hal tersebut dapat tercermin dengan beberapa tingkah polah yang dilakukannya. Misalnya saja, ketika dia bercerita dengan seseorang tubuhnya tidak pernah diam, intonasi saat dia berbicara itu tidak jelas karena orang yang menggunakan bahasa alay itu kata-katanya bernada ditekankan atau direndahkan.
  Dari hal-hal diatas, terlihat bahwa bahasa alay tidak hanya berpengaruh pada bahasa secara tulisan, tetapi juga bahasa lisan. Bahkan mempengaruhi pola pikir dan tingkah laku seseorang. Jika bahasa yang seperti ini terus bertahan bahkan membudaya di kalangan remaja tanpa ada tindakan yang mampu menghentikannya, bisa saja bahasa nasional Indonesia yang sejatinya adalah bahasa Indonesia berubah menjadi bahasa alay. Tentu hal yang seperti ini akan mencoreng jati diri kita sebagai bagian dari bahasa Indonesia itu sendiri.
  Bahasa alay jika kita lihat dari sisi kreatifnya, bisa dikatakan sebagai suatu fenomena yang kreatif. Karena dengan bahasa alay, para remaja dapat mengakrabkan diri mereka dengan bahasa yang mereka anggap mudah untuk diterima dan dipahami.  Namun sayangnya, kekreatifan yang dibuat ini bukanlah kreatif yang akan berdampak positif bagi keberlangsungan bahasa Indonesia sebagai syarat utama pengantar komunikasinya.
  Bahasa alay ini muncul tidak lepas dari adanya pengaruh media sosial yang berkembang saat ini seperti facebook, twitter, blog, dan media sosial lainnya. Mengapa ? Karena, media sosial adalah tempatnya para remaja bergerak. Setiap saat dan setiap waktunya, media sosial ini tidak pernah lepas dari genggaman para remaja. Sehingga media sosial dijadikan sebagai sasaran yang “empuk” untuk pembuat bahasa alay ini menularkan bahasa yang dibuatnya itu.
  Bahasa Indonesia tidak akan luntur jika sebagai warga negara Indonesia itu sendiri, kita dapat menanamkan rasa cinta dan kepedulian terhadap bahasa Indonesia. Kita bisa meneladani negara-negara lain yang walaupun didera arus globalisasi, tetap mampu mempertahankan bahasa nasionalnya sebagai bahasa komunikasi sehari-hari, misalnya saja seperti negara Jepang, Perancis dan Filipina.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar